Cerpen

NO MATTER WHAT

Oleh : Miftakhurrofi’ah (Juara 1 Lomba LCF 2015)

 

Aku tak pernah bermimpi menjadi orang seperti ayah. Aku ingin menjadi diriku sendiri, menjadi seperti apa yang aku inginkan. Walaupun aku tahu itu tak mungkin. Tetapi jika itu yang mereka inginkan, jika itu yang membuat mereka bangga, apapun itu akan kulakukan.

Kata-kata itu mengingatkanku kepada seseorang. Sosok yang jenius, ceria, dan tak pernah menyerah. Sosok yang amat sangat rendah hati, dan suka menolong. Sosok yang menuai banyak prestasi. Sosok yang dikenal baik oleh semua orang dan dia juga sosok yang sangat dibanggakan di keluarga kami. Tetapi aku tak pernah menyukainya. Jean, dan aku—Joey. Kami kembar identik, meski orang lain tak pernah menganggap kami kembar. Orang bilang kecantikanku hanyalah hasil salinan dari wajah Jean.

Aku tak pernah sebaik Jean di mata orang. Bahkan di keluarga kami. Mereka menganggapku payah, pecundang, pemberontak, dan keras kepala. Aku tak sejenius Jean. Dan itulah kenapa aku tak pernah diakui di keluarga ini. Ayah adalah orang yang sangat berpengaruh di negara kami. Sehingga ayah lebih senang mengenalkan Jean kepada publik. Aku tak pantas dikenal sebagai bagian dari keluarga ini. Semua serba Jean dan Jean. Dan itulah kenapa aku begitu membencinya.

Namun entah kenapa, ungkapan itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Seolah ada makna berbeda dari hati Jean. Ia mengatakannya beberapa waktu lalu disaat kami tak sengaja bersama.

“Joey…” sapanya tanpa menatapku. Waktu itu suasana begitu canggung.

“Baru kali ini aku mendengarmu memanggilku sejak sembilan tahun lalu.”

Benar, sembilan tahun lalu. Sejak ayah memperlakukan kami berbeda, Jean dan aku tak pernah berbicara. Ayah lebih mementingkan kebahagian Jean daripada kami berdua. Semenjak ayah memutuskan Jean sebagai pewaris tunggal yang sah.

“Sudah lama, ya? Kupikir kita tak akan sedekat ini lagi.” tambahnya.

Ia berusaha menghangatkan suasana. Namun sepertinya tak semudah itu.

“Kapan ya, kita bisa pergi ke studio musik lagi? jariku terasa gatal, lama tak menyentuh tuts-tuts itu lagi.” ungkapnya lagi.

Piano putih milik kami. Aku tahu Jean berusaha mengingatkanku pada kenangan masa kecil. Jean yang dulu sangat menyukai piano. Dan aku tak pernah absen memainkan biola. Dulu kami juga sempat bertukar bakat.

“Kudengar kamu bergabung di grup musik. Selamat ya.” Tambahnya.

Grup musik? Aku pikir bergabung di grup musik jalanan itu tak sebanding dengan prestasi-prestasi tingkat nasional yang pernah diraihnya. Kedengarannya itu bukan ucapan selamat, bagiku lebih pantas dibilang ejekkan.

“Joey, lusa ayah mengirimku ke New York. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku ingin kamu tahu, sebenarnya aku tak butuh itu semua.”

Tentu saja itu semua karena ayah ingin putri kesayangannya menjadi orang hebat. Berbekal pendidikan setinggi langit yang tidak bisa dibandingkan oleh siapapun, apalagi denganku. Tentu Jean tidak membutuhkannya, ia sudah merasa cukup hebat dengan otaknya yang serba tahu.

“Bukan itu maksudku, Joey.” Tukasnya, seolah ia berhasil membaca pikiranku. “Aku tak pernah bermimpi menjadi orang seperti ayah. Aku ingin menjadi diriku sendiri, menjadi seperti apa yang aku inginkan. Walaupun aku tahu itu tak mungkin.” Kulihat ia menundukkan wajahnya. Ada rasa putus asa, menyesal, dan serba salah. “Tetapi jika itu yang mereka inginkan, jika itu yang membuat mereka bangga, apapun akan kulakukan.” Terusnya.

Aku tersadar, kalimat-kalimat itu seolah bagaikan keluhan. Ini bukan seperti Jean yang mereka kenal. Tetapi sebagian kalimatnya mengisyaratkan makna perjuangan. Bodohnya aku selalu berusaha menyangkalnya.

“Aku tak mengerti maksudmu. Kamu tahu, kan? IQ-ku jauh di bawah rata-rata.” Jawabku kemudian hendak melangkah pergi.

“Joey, aku yakin kamu tahu maksudku.”

Naif, mungkin itu kata yang pantas bagiku. Berpura-pura tak peduli, tak mengerti, dingin dan egois. Sebenarnya ada rasa sesal yang teramat untuk yang kedua kalinya. Disaat Jean butuh simpatiku, dan disaat dia berusaha peduli denganku, tapi aku selalu mengabaikannya.

Dan saat kata-kata itu kembali muncul diingatanku, rasa sesal itu semakin besar. Seharusnya sejak awal aku bersikap baik dengannya. Seharusnya aku menghibur Jean disaat ia lelah. Aku tahu Jean menderita jalan hidupnya diatur sedemikian rupa. Aku tahu ini bukan keinginan Jean menjadi orang hebat seperti ayah. Aku tahu, bukan ini impian Jean yang sebenarnya.

-o0o-

“Apa kabar Jean? Bagaimana keadaanmu disana?” kataku.

Sudah hampir dua pekan aku tak mendengar kabar Jean. New York, pasti tempat itu membuat Jean lupa akan segala hal. Aku rindu Jean. Aku rindu melihat tawa Jean bersama ayah dan ibu di rumah. Meski keberadaanku tak pernah dianggap, melihat mereka tertawa pun cukup bagiku. Sekarang, tanpa Jean rumah sebesar istana ini tak ada harganya. Bahkan aku tak pernah melihat ayah dan ibu di rumah semenjak Jean pergi.

“Jadi, untuk apa aku disini tanpamu, Jean?” pikirku.

Aku mencoba melangkahkan kaki keluar dari rumah. Namun langkahku terhenti. Samar-samar aku mendengar ayah berbicara dengan ibu tentang kondisi Jean di New York.

“Apa yang harus kita lakukan? Kanker itu mulai menyerang saraf penglihatanya. Jean buta, Bu.” Kalimat itu membuatku hampir limbung.

“Jean buta?” gumamku.

Jadi alasan ayah mengirim Jean ke New York adalah untuk pengobatan? Aku tak habis pikir Jean mengidap kanker. Kupikir gadis itu gadis yang kuat. Aku tahu sekarang, kenapa ia mengeluh kepadaku. Jean pasti lelah diperlakukan seperti itu.

“Ayah membuat Jean jatuh sakit. Ayah yang terlalu memaksakan kehendak supaya Jean bisa menjadi penerus Ayah. Ayah tidak peduli Jean mengeluh. Ini semua salah Ayah!” Protesku.

Aku tahu suasana sedang tak baik. Tapi aku tak pernah rela ayah memperlakukan Jean begitu keras. Kalimat itu membuat ayah hampir menamparku.

“Sejak kapan kamu peduli dengan Jean?! Ayah melakukan ini demi masa depan Jean! Demi masa depan keluarga! Tanpa Jean keluarga ini bukan apa-apa! Lalu apa yang bisa kamu lakukan untuk keluarga?!” tukasnya keras.

Memang, semua orang meremehkanku. Terlebih ayah yang selalu membandingkan aku dengan Jean. Aku sendiri dianggap tak memiliki keunggulan sama sekali kecuali menyusahkan orang lain.

“Memang aku tak memiliki kelebihan seperti Jean! Tapi suatu saat, akan aku buktikan kepada Ayah, kepada seluruh dunia, bahwa aku layak menjadi orang hebat!” tukasku keras.

Aku menghambur keluar rumah dan kuputuskan untuk tidak kembali.

-o0o-

Enam bulan berlalu begitu cepat. Musim dingin di Eropa memberi kesan berbeda. Benar, kini aku tinggal di Perancis. Tidak dengan Jean, tidak dengan ayah ataupun ibu. Tetapi bersama orang-orang yang mengakui keberadaanku.

Aku bukan Joey yang dulu. Aku bukan pemberontak, bukan juga pecundang. Kini Joey tumbuh tidak hanya sebagai ‘salinan Jean’. Aku tumbuh dengan semangat diriku sendiri. Bersama orang-orang baru yang mendukungku. Aku juga tidak habis pikir, perjuangan ini membuatku menjadi seperti sekarang.

“Apa kabar Jean? Bagaimana keadaanmu disana?” ucapku untuk kesekian kalinya. Ungkapan yang melambangkan kerinduanku sebagai saudara kembar.

“Jean, sekarang aku bisa merasakannya. Bagaimana rasanya dipuji dan dipandang baik oleh semua orang.” Batinku. Curahan kebahagiaan yang ingin kubagi dengan Jean disana.

“Hey Joey. Kamu siap? Orang-orang sudah menantikanmu.” Ujar seseorang yang terdengar tak jauh dari tempatku berdiri. “Ayo! aku akan menuntunmu sampai ke atas panggung.” Lanjutnya.

“Terima kasih, Lucy.” Tukasku.

Benar, sekarang aku memang buta. Sebelum pergi ke Eropa, aku menemui Jean. Kuputuskan untuk memberikan kedua mataku kepadanya. Dan itu semua kulakukan untuk Jean. Saat ini, ia sedang menjalani kemoterapi. Aku tahu dia berjuang begitu keras melawan penyakitnya. Ayah dan ibu, mereka tidak tahu aku yang telah mendonorkan mata ini untuk Jean. Toh, mereka juga tidak memperdulikannya.

“Joey, ayo! Tunggu apa lagi? Sudah banyak penonton yang menantikan penampilanmu disana.” Lucy mengingatkanku lagi.

Inilah mimpiku yang sebenarnya. Bukan, tepatnya impian kami berdua—Jean dan aku. Cinta kami terhadap musik sejak kecil. Kesukaan kami pada harmoni yang muncul dari tuts piano dan gesekan biola. Kupersembahkan ini kepada semua orang. Pertunjukkan musik di atas panggung besar untuk yang kesekian kalinya.

“Jean, Ayah, Ibu, lihat! Inilah yang bisa aku lakukan untuk keluarga, terutama Jean. Mimpiku dan mimpimu menjadi kenyataan. Jean, aku teringat ucapanmu. Apapun, akan kulakukan demi kebahagiaan bersama.”

Dengan nama panggung Joyce Jean, terserah mereka mengenaliku sebagai Joey atau Jean, tapi inilah aku. Aku bangga mempersembahkan ini semua pada dunia.

 

Print Friendly, PDF & Email