Cerpen

Seterang Malam

Oleh: Fei Diasti/ Widiastuti (Juara 2 LCF 2015)

 

Everything has its wonders, even darkness and silence, and I learn, whatever state I may be in, therein to be content. –Helen Keler-

Aku menyeruak diantara pepohonan, dedaunan yang rimbun aku lewati dan aku dapati dia di sana, duduk terpekur menunduk ke arah ilalang yang bertiup begitu pelan. Hidung mancung dan muka porselennya tenggelam di bawah bayang-bayang pohon mahoni besar yang menaunginya. Dia masih di sana, di dalam bayang gelap pohon mahoni cantik tempat biasa dia berada.

Dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, mengamati setiap gerak geriknya. Aku hanya bisa menunggu dia keluar dari sana, karena aku tak mampu menjangkau dia.

Sekilas, dia nampak biasa saja. Sekilas dia nampak sama dengan yang lain. Dan jika kau melihatnya, mungkin yang membuatmu akan memandang ke arahnya karena dia lebih tampan dari artis korea. Tapi, yang membuatnya begitu istimewa dan berharga bukanlah itu. Sebentar lagi kau akan tahu.

Dia mulai melangkah keluar dari bayang bayang. Dan begitu dia keluar, aku bisa langsung menjangkaunya. Dia sangat suka kehadiranku. Karena aku hangat dan membuatnya nyaman, mungkin itu salah satunya. Jika yang lain mengeluh karena aku terlalu ceria dan membuat kulit mereka serasa terbakar begitu terpapar lama olehku, dia malah senang. Dia akan tersenyum. bahkan, saat terlukapun dia tersenyum. Aku begitu heran dengannya, makanya aku selalu mengamati dia. Jika yang lain menangis dan menjerit kesakitan karena jari mereka berdarah, dia malah tersenyum. Melukiskan lekukan setengah lingkaran yang sempurna di wajah bonekanya.

“Huda, kau tak mau berteduh nak?” seorang perempuan paruh baya menghampirinya. Dia melangkahkan kaki mendekat. Laki laki bernama Huda itu masih asyik menengadah, membiarkan wajahnya diterpa cahaya mentari.  Dia bermain main seolah dia hanya sendiri. Ibu separuh baya yang tak lain tak bukan adalah ibundanya sendiri itu mungkin tak cukup dekat untuk membuat suaranya terdengar oleh telinga Huda. Sudah berhari-hari ini Huda sering main keluar, biasanya dia akan mengurung diri di kamar dan tak membiarkan seorangpun boleh menyentuhnya. Mungkin kali ini dia menemukan sesuatu yang membuatnya tertaik dan memaksanya keluar dari zona nyamannya-kamar tidur.

“Pasti kau suka sekali ya dengan sinar matahari” Ibu berbicara lagi. Kali ini Huda mengangguk, tersenyum. Sepertinya getaran suara ibunda tersayangnya dapat ia jangkau dengan alat bantu dengarnya.

Ibu tersenyum.Ada sebersit kelegaan yang terpancar dari mata yang sudah mulai meredup itu. Tak ada yang membuat dia lebih bahagia selain melihat Huda tersenyum dan menikmati setiap detik hidupnya.

Sudah selama belasan tahun ini Huda hidup di dunianya sendiri, dengan tameng yang sangat kuat, sangat tinggi. Tak bisa ditembus. Jika orang lain ingin mengetuk dan membukanya, dia akan langsung memberikan aksi penolakan. Menambah tamengnya menjadi lebih banyak. Lebih rapat.

Selama 12 tahun ini Huda hanya akan duduk di kamarnya, meraba raba sekitarnya. Mengamuk melempar apapun yang ada di sekitarnya lalu tertidur seusai menjerit dan meronta ronta. Dia akan terbangun sebentar, menjerit dan tertidur lagi.

 

“Ayah, Ibu sungguh tak kuat dengan ini semua” Ibu tiba tiba membuka mulut di sore itu. Ayah yang menyeruput kopi terdiam lama. Cukup lama.

“Ibu, ayah telah memikirkan ini masak masak” Ayah berujar pelan. “Sepertinya akan lebih baik kalau kita mengirim Huda untuk di rehabilitasi bu”

“Ayah, Ibu tak mau!! Aku tak akan membiarkan dia sendirian lagi di dunianya yang sepi. Maksud Ibu bukan seperti itu!”

“Maafkan ayah” ayah tertunduk. Air mata membanjiri kelopak istrinya tercinta. “Ibu, maaf. Maafkan ayah”

“Ibu mau mendonorkan mata Ibu” Ayah mencengkeram bahu Ibu semakin keras.dia menggeleng lemah. “Tidak boleh, jangan Bu”

“Aku ingin dia melihat dunia. Aku mau memberikan dunia kepadanya melewati mata Ibu”

Ayah tercekat. Kerongkongannya mendadak kering. Suaranya tak mau keluar, hanya tertahan di dalam. Terperangkap. Mereka terisak dalam sepi. Sesosok ayah yang kuat dan gagah, sekarang runtuh pertahanannya. Benar benar runtuh.

 

Ibu duduk di rerumputan. Menemani Huda yang asyik meraba raba rumput manila. Dia terus berharap, malaikatnya yang sekarang akan beranjak dewasa bisa melihat dunia yang sesungguhnya. Selalu dan tak pernah berhenti. Dia berharap, jika suatu saat Huda mampu mendengar segala macam bunyi bunyian yang membuat dunianya akan semakin berwarna.

“AAa—-“ dia meronta. Menendang nendang. “Sayang, diam sebentar ya. Ibu dokter akan memasangkan alat ini supaya kamu bisa mendengar suara ibu nak”

Huda tetap meronta. Tentu saja meskipun Ibu berbicara Huda tak mendengarnya barang sedikitpun. Baginya tidak ada siang dan malam. Karena gelap selalu mengukung dan menyelimutinya. Setiap detiknya hanya ada kegelapan yang sunyi. Tanpa suara suara sedikitpun.

Tidur atau tidak, sama saja. Hanya ada kegelapan hanya ada kesunyian. Malam atau siang, semua tak berbeda karena langit malam di dunia Huda tak mau bertukar dengan siang.

Ibu selalu menangis diam diam, menyimpan segala gundah dan resahnya untuk dirinya sendiri. Ayah juga, menangis dalam diam. Memendam rasa penyesalan dan air mata yang selalu akan tumpah sewaktu waktu seorang diri. Ya, Ayah dan Ibu memilih melakukannya karena mereka tahu, jika masing masing memiliki rasa yang hampir sama. Mereka mencoba untuk menepis perasaan itu dengan menampilkan muka tegar dan sesungging senyum yang mungkin bisa meringankan atmosfer di rumah mereka.

Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Ibu, Huda tertawa. Merasakan bulir embun yang masih tersisa diujung rerumputan. Merasakan rumput rumput yang menyeruak geli di antara jemari kakinya.

“Aah, sekarang sudah waktunya Huda bermain dengan Kak Nay, yuk sana” Ibu menuntun Huda kesana, menggandengnya. Karena akhir akhir ini Huda sering main ke halaman tanpa tongkat, dan itu membuat ibunya khawatir, walaupun Huda sudah hafal betul tata letak dalam rumah dan halaman.

Rutinitas Huda sekarang ini hanya bermain. Ya, bermain dengan kartu kartu braile kak Nay, bermain dengan laptop braile ataupun bermain dengan piring dan sendok. Setiap hari hanya bermain. Itu tak masalah, yang penting Huda menikmatinya sekarang. Wajah pucatnya karena jarang terkena sinar matahari, sudah mulai merona dan nampak sehat. Dia sudah mulai mau memasukkan orang lain ke dalam dunianya. Itu kemajuan.

Dulu, Kak Nay selalu datang dengan buku-buku cerita, dan membacakan semua cerita untuk Huda. Meskipun Huda hanya diam tanpa merespon dan terkadang asyik sendiri, Kak Nay setiap hari selalu datang. Mengajaknya bicara, memberi tahunya tentang berita berita yang ada di televisi dan surat kabar, mengajaknya diskusi-lebih tepatnya diskusi satu arah tentang problematika yang sedang terjadi. Kak Nay juga akan mengajaknya menyanyi sesekali.

Sekarang sudah ada kemajuan. Huda bisa belajar dengan cepat, dia memiliki memori dan daya tangkap yang cepat. Di balik kekurangannya dia menyimpan potensi luar biasa yang selama ini ia tutup rapat.

Sore itu, Nay mendapat kejutan luar biasa. Bukan, bukan hanya Nay. Tapi Ayah Ibu dan Kakak Huda.

Nay berjalan tergopoh-gopoh, memanggil Ayah dan Ibu yang kebetulan sudah pulang bekerja. Dia menyodorkan sebuah amplop kepada mereka. Di pojok, tertulis tulisan tangan yang tak rapi dan acak acakan. Tak jelas apa, tapi mereka tahu apa maksudnya.

Ayah, Ibu aku tak tahu sudah seberapa lama aku berada dalam kubangan ini

Aku tak tahu, apakah sebenarnya duniaku ini nyata atau tidak

Karena yang bisa aku lihat hanyalah kegelapan dan kesunyian

Aku tak tahu sudah berapa kali aku membuat orang lain terluka, barang barang yang ku lempar.. mungkin akan jatuh dan pecah, tapi aku tak tahu apakan selama ini aku juga melakukan hal yang sama terhadap kalian

Aku tak tahu apakah di sana ada luka yang tertoreh karena aku,

 

Ibu aku sangat mencintaimu, ayah juga

Terimakasih telah memberi dunia kepadaku

Ibu, aku sekarang tahu bahwa duniaku lebih berwarna, tak hanya hitam

Tapi, apakah ibu paham maksudku?

 

Oh ibu,  duniaku tak sepenuhnya gelap

Dan tak sepenuhnya sunyi.

Duniaku seterang malam, ada cahaya yang terang dan menentramkan

Duniaku seterang malam purnama, saat rembulan bersinar dan bintang bintang bermunculan

 

Tuhan berbisik padaku, bahwa aku istimewa Ibu. Dia menyayangiku

Karena Dia mengasihiku, Dia memperlihatkan dunia-Nya hanya kepadaku,

 

Dia memperlihatkan dunia yang sesungguhnya, dan menutup telingaku atas perkataan perkataan yang tak semestinya keluar dan diucapkan orang orang

 

Ibu, Tuhan bilang, cahaya selalu menjagaku, mengamatiku dan menantiku keluar dari bayang bayang gelap

Dan sekarang aku sedang berjalan keluar, karena aku mau dunia gelapku menjadi seterang malam

Ibu, aku cukup dengan keadaanku. Karena Tuhan telah mencukupkan kalian untukku

Ayah, aku puas dengan keadaanku. Aku tahu aku puas. Kegelapan milikku itu istimewa, dan kesunyianku juga memiliki arti yang tak hanya dari sekedar arti kata. Dan aku Huda. Namaku Huda, aku bersyukur atas segalanya.

 

Ayah dan ibu menangis. Akhirnya Huda benar-benar memasukkan mereka ke dalam dunianya yang sekarang menjadi seterang malam , akhirnya mereka tahu apa yang benar benar Huda pikirkan. Mereka tak tahu, anak kecil mereka jauh memiliki pemikiran yang dewasa dan luar biasa. Dan mereka sungguh bersyukur, walaupun tak belajar belasan tahun, sepertinya Tuhan memberi berkat terlebih kepadanya. Karena Huda sungguh istimewa.

Ayah dan Ibu memeluk Nay, dia mampu mengajari anaknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang hingga dia mengalami kemajuan pesat, sangat pesat. Yah, Huda mampu tumbuh dan berkembang dengan pesat karena orang-orang di sekelilingnya percaya akan kemampuannya, mengajarinya dengan penuh cinta dan kasih sayang dan tanpa pengharapan untuk mendapat balasan. Dia begitu istimewa, terlepas cacat atau tidak. Dia lagi lagi membuktikan bahwa dengan kehendak Tuhan, apapun menjadi mungkin. Apapun akan menjadi mungkin jika memberikan ruang untuk kemungkinan itu berkembang. Dan ketahuilah, aku cahaya. Aku ada disetiap dia, Huda menutup atau membuka mata. Dan aku ada disetiap pancaran wajahnya. Aku juga selalu dan akan selalu ada di hatinya. Di lubuk hatinya. Jadi jangan kau anggap dia sendirian. Dia sungguh, memiliki cahaya melimpah. Jauh-jauh lebih banyak.

 

Print Friendly, PDF & Email